Kartu Kredit Tak Perlu Jadi Momok

(Istimewa)

Jakarta – Kartu kredit telah lama jadi gaya hidup metropolitan. Tapi, masih banyak nasabah yang kurang memahami cara pengunaannya dengan bijak.

Sebagai salah satu sumber pendanaan, kartu kredit bisa menjadi jawaban bagi sebagian individu. Namun tidak jarang penggunaan kartu kredit justru menjerumuskan penggunanya. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan pemakaian kartu kredit secara bijak.

Di lain sisi, jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia terus meningkat. Pertumbuhan berkisar 20-30% per tahun. Saat ini, jumlah kartu kredit beredar mencapai 8,8 juta dengan total kredit dikeluarkan Rp 18,3 triliun.

Dengan jumlah cardholder yang berkisar di angka 4-5 juta, rasio kepemilikan kartu kredit di Indonesia satu banding dua. Jadi setiap pemegang kartu kredit rata-rata memiliki dua kartu kredit. Angka ini masih wajar ketimbang warga Korea Selatan yang mengalami problem lebih serius dengan penggunaan kartu kredit dengan rasio satu banding delapan.

Kartu kredit sebenarnya tidak perlu lagi dijadikan momok yang menakutkan selama nasabah mengetahui teknik-teknik perencanaan anggaran dan pengelolaan kredit yang baik. Bagaimana sebenarnya cara menggunakan kartu kredit yang bijak dan tidak membuat kepala pusing di kemudian hari?

Customer Care Head Citibank NA, Hotman Simbolon mengatakan, keluhan-keluhan yang diterima Citibank pada umumnya disebabkan nasabah yang kurang memahami bagaimana menggunakan kartu kredit mereka dengan bijak.

“Nasabah perlu membekali diri dengan berbagai informasi seputar perencanaan, penggunaan, dan pengelolaan kredit. Hal ini penting karena akan mempengaruhi gaya hidup dan ketahanan finansial nasabah yang bersangkutan,” ujarnya kepada INILAH.COM di Jakarta.

Berdasarkan data BI, nilai transaksi kartu kredit pada akhir 2007 mencapai Rp 26,96 triliun atau meningkat 12,04% dibandingkan 2006 (Rp 24,06 triliun). Masing-masing tingkat NPL (non performance loan) adalah 11,85% dan 8,96%.

Berbagai langkah dilakukan kalangan perbankan dan bank sentral untuk melakukan edukasi pada masyarakat. Namun, ibarat menahan ombak lautan, proses sosialiasi belum juga mampu mengubah berbagai perilaku mendasar dalam masyarakat.

Hal ini yang menjadi perhatian Citibank dalam peluncuran program edukasi Finansial Use Credit Wisely. Dalam presentasinya, Card Business Head Citibank NA Irfan Ahmed, memaparkan kartu kredit memang memberikan berbagai kemudahan.

“Namun nasabah perlu mencatat setiap transaksi yang dilakukan dan mengontrol jumlah pemakaian untuk menghindari berbagai masalah finansial di kemudian hari,” ucapnya.

Salah satu tips yang tertera adalah tiga C (3C) untuk mempertahankan kredit yang sehat. Pertama, character yaitu, memiliki perilaku dan tanggung jawab dalam membayar tagihan tepat pada waktunya.

Kedua, capacity, yakni mengetahui kemampuan membayar pinjaman atau kartu kredit berdasarkan pendapatan dan kondisi keuangan. Kemudian ketiga adalah collateral atau jaminan yang dapat digunakan bank atau institusi kredit untuk melunasi pinjaman bila tidak mampu lagi membayar.

Kampanye Use Credit Wisely disosialisasikan melalui penyebaran buklet

yang tersedia di seluruh cabang-cabang Citibank dan penyebaran secara acak kepada publik di tempat-tempat umum serta situs yang dapat diakses melalui http://www.citibank.co.id.

Use Credit Wisely memuat tips-tips pengelolaan kredit dan penggunaan kartu kredit yang mudah diikuti, seperti cara kerja kartu kredit, cara mengontrol keuangan dengan membuat anggaran, pencegahan terhadap kejahatan dan pencurian identitas.

Dalam catatan INILAH.COM, selama 2007 kalangan perbankan menderita kerugian Rp 40-45 miliar akibat pembobolan kartu kredit. BI sendiri sudah berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dengan penegak hukum terkait pembobolan kartu kredit.

Use Credit Wisely merupakan program edukasi finansial Citibank yang sejalan dengan kampanye ‘Ayo ke Bank’ dan tahun pendidikan finansial Bank Indonesia 2008 yang telah diluncurkan bulan Januari lalu.

Sosialisasi penggunaan kartu kredit kepada konsumen mutlak dilakukan. Sehingga bank terhindar dari kredit macet sementara konsumen tidak mengalami kesulitan di kemudian hari. Bijaklah saat menggesek! [E1/I4]

Ditulis oleh: Yusuf Karim
pada: 11/03/2008 10:29
di: Inilah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s