Menunggu Robohnya Citibank

Nama Citibank cukup dikenal di Indonesia, terutama karena menghasilkan bankir-bankir terbaik. Bisnis bank ini juga moncer dan menguasai pangsa pasar kartu kredit di Indonesia. Namun sebenarnya bank ini tengah menuju jurang kehancuran. Kredit macet di mana-mana dan nama Citibank mulai dihindari oleh para calon pembuat kartu kredit. Alasannya bank ini menerapkan pola tagihan bunga berbunga yang mengakibatkan banyak nasabah pemegang kartu kredit megap-megap.

Begitu pula di tingkat global, Citibank yang menginduk ke Citigroup, sedang menuju jurang kehancuran. Bank ini terperangkap dalam kredit macet perumahan di Amerika (subprime mortage), yang menyebabkan kerugian sebesar Rp 160 trilyun. Harga saham Citibank anjlok drastis dari US$ 57 melorot ke US$ 20 per lembarnya. Akibatnya para pemegang saham bank tersebut terpaksa merelakan market value senilai Rp 1.400 trilyun. Cukup besar kan?

Ternyata robohnya Citibank karena kesalahan dalam mengelola SDM. Citibank telah salah memilih CEO pada tahun 2000. Saat itu Citigroup yang merupakan perusahaan gabungan Citibank dan Travelers Group, memlih CEO bernama Sandy Weill. Karena secara manajerial, Sandy tidak memiliki kapabilitas yang baik dan tidak terarah visi dan misinya mengakibatkan banyak bankir yang cabut dari Citibank.

Parahnya lagi, penerusnya juga tidak memiliki bobot SDM yang berkualitas. Charles Prince, yang tak lain adalah konconya dewe sebenarnya bukanlah lulusan perbankan. Dia hanyalah seorang kepala bagian HRD. Karena merugi, Citibank akhirnya mem-PHK Prince dari jabatan CEO. Akibatnya hutang Citibank (baca: bangsat) ini menumpuk dan menumpuk. Untuk menutup kerugiannya, bank ini langsung menggunakan strategi meraup keuntungan dari para nasabahnya. Caranya… ya dengan menggunakan teknik tagihan bunga berbunga… Huuuh pantas saja konsumen yang dirugikan. Jadi sebaiknya hindari bank ini agar segera ambruk dan kalau Anda ingin membuat kartu kredit sebaiknya pilih bank nasional produk dalam negeri. Banyak kok bank lokal yang juga menerbitkan kartu kredit seperti BCA, Mandiri, BNI, BRI, Permata, Mega, dan sebagainya. Biasanya bank lokal lebih manusiawi ketika melakukan penagihan dan bunganya pun tidak sebesar bank-bank asing seperti Citibank.

Cintailah produk dalam negeri dan usir kapitalis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s